Catatan Perjalanan Sail Tomini 2015 : Ketika Harapan Tak Sesuai Dengan Kenyataan (bagian 2)

Tepat pukul tujuh pagi, kami semua telah berkumpul di kantin asrama. Bukan karena kelaparan (meskipun kami memang lapar) tapi itu instruksi dari pak direktur. Jarak antara rumah tempat kami menginap dengan kantin tak terlalu jauh, hanya sekitar 100 meter saja. Sesampainya di sana, kami melihat para polisi tersebut masih melaksanakan apel pagi. Rencana perjalanan yang harusnya di mulai pukul delapan pagi, akhirnya molor hingga satu jam kemudian karena menunggu peralatan dan kapal karet yang akan dibawa ke lokasi.
Continue reading

Catatan Perjalanan Sail Tomini 2015 : Welcome to Palu! (bagian 1)

“Eh, ada yang mau jadi tim medis polair untuk sail tomini?”

Itulah bunyi pesan yang dikirimkan oleh seorang teman di grup line kelompok kami. Jujur, saya sama sekali tak tahu dan tak memiliki gambaran mengenai apa itu Sail Tomini, tetapi karena hampir semua teman saya di grup line tersebut mendaftarkan diri, akhirnya saya pun melakukannya. Hanya jadi tim medis kan? Itu pekerjaan yang sudah biasa kami lakukan.
Continue reading

Mudik dan Pertanyaan “Kapan Nikah?”

Sebagai seorang perantau, mudik lebaran merupakan hal wajib yang rutin dilakukan tiap tahunnya. Yah, meskipun tak setiap tahun saya bisa mudik dikarenakan banyak hal, seperti jadi security di rumah sakit saat koas dulu, tahun ini saya bisa mudik tanpa dirisaukan dengan pikiran kapan harus kembali ke tanah rantauan.

Salah satu hal yang biasanya menjadi ketakutan para perantau ini (tidak termasuk saya) saat mudik adalah ketika keluarga menanyakan pertanyaan keramat, “Kapan nikah?”. Hahaha… Dengan bangga saya mengatakan saya tidak termasuk di dalam kelompok yang takut dengan pertanyaan itu. Mengapa? Karena keluarga saya tak pernah menanyakannya. Bahkan sekedar bertanya siapa yang saat ini sedang dekat dengan saya pun tidak. Oke, tante dan oom saya mungkin sedikit usil bertanya tentang ini dan itu, namun mereka tak pernah sekalipun mengungkit masalah nikah. Continue reading

Dialek Makassar yang Bikin Salah Paham

Mau ke manaki?”, agak kaget saya menoleh dan memandang nenek tersebut. Wajahnya tak familiar. Setelah terdiam cukup lama, akhirnya saya pun menjawab pertanyaannya dengan terbata-bata.

Ini pengalaman saya beberapa tahun yang lalu. Tepatnya saat pertama kali menginjakkan kaki di Makassar. Oke, mungkin itu bukan yang pertama kalinya. Tapi biasanya saya ke kota ini hanya untuk sekedar transit ketika ingin mengunjungi nenek di Bandung sana.

Mungkin beberapa teman sudah tahu hal apa yang ingin saya ceritakan di tulisan ini ketika membaca kutipan percakapan di atas. Ya, saya sudah sangat sering menceritakan pengalaman saya ini dan setiap mengingatnya selalu membuat saya tertawa dan merasa geli sendiri. Continue reading

Dokter Pengangguran

“Aku ingin jadi dokter!”. Begitulah kira-kira jawaban yang sering diberikan oleh anak-anak ketika ditanya mengenai cita-citanya. Mungkin sihir jas putih dan stetoskop yang dikalungkan di leher tampak sangat keren. Saya pun sepertinya telah tersihir. Entah mengapa, sejak duduk di bangku taman kanak-kanak saya telah memutuskan untuk menjadi seorang dokter. Karenanya, saya selalu berusaha untuk mendapatkan predikat terbaik di sekolah agar bisa mencapai keinginan terbesarku itu. Continue reading

New Blog (?)

Menulis sudah menjadi aktivitas rutin saya sejak masih duduk di bangku SMP. Entah itu hanya menulis sebait puisi di halaman terakhir buku matematika saya, ataukah mengetik suatu cerita pendek fiktif menggunakan mesin tik mama yang sudah usang. Namun, entah mengapa aktivitas itu perlahan menghilang sejak saya mulai memasuki dunia tanpa koma. Dunia kedokteran. Oke, nampaknya saya lebay. Tapi, demikianlah yang terjadi. Menjadi seorang mahasiswi kedokteran telah menguras energi dan waktu saya untuk menulis. Bahkan ia pun mengikis imajinasi saya dalam mengarang suatu novel (yang selalu saya tulis namun berakhir tanpa ada kata tamat). Continue reading