Masih Mengenangmu; dr. Dionisius Giri Samodra

12241252_1062158190475558_2459256631029157070_n

Hai, apa kabarmu di sana, Ndra? Ah, ini pertanyaan yang sangat klasik untuk memulai sebuah surat. Kau tahu? Aku sudah tak pernah lagi menulis surat untuk seseorang sejak duduk di bangku sekolah dasar dulu. Itupun karena ditugaskan untuk memiliki seorang sahabat pena. Aku menulis ini karena aku tak tahu bagaimana lagi cara menggapaimu, meraihmu, berkomunikasi denganmu, selain dalam tiap doa yang kupanjatkan untuk dirimu.

Aku sangat ingin untuk bisa mengatakan, bahwa tak terasa sudah satu bulan lamanya kau pergi meninggalkan kami dan tak mungkin kembali lagi. Namun, nyatanya tak demikian. Waktu terasa begitu lambat berlalu. Tiap detik yang kuhabiskan ketika mengingatmu sungguh teramat menyiksa. Dan aku yakin, itupun dirasakan oleh sahabat-sahabatmu yang lain, yang juga mencintaimu. Continue reading

Tetap Dalam Jiwa; dr. Dionisius Giri Samodra

Yudisium Dokter

Masih lekat di ingatan saat kau meneleponku sore itu. Hujan. Sangat deras. Dan tentu saja dingin. Aku masih di Sorong. Berlibur di rumah orang tuaku, sekaligus menanti pengumuman UKMPPD yang sangat mendebarkan. Kau meneleponku. Bertanya apa kabarku. Ah, itu pertanyaan biasa yang kau tanyakan padaku setiap minggunya. Aku pun menjawab baik saja. Kita pun mulai bercerita. Mulai dari hal yang remeh hingga yang paling remeh. Oke, kita berdua memang jarang membahas sesuatu yang serius. Namun sore itu, kau sepertinya agak gelisah.
Continue reading

Catatan Perjalanan Sail Tomini 2015 : Ketika Harapan Tak Sesuai Dengan Kenyataan (bagian 2)

Tepat pukul tujuh pagi, kami semua telah berkumpul di kantin asrama. Bukan karena kelaparan (meskipun kami memang lapar) tapi itu instruksi dari pak direktur. Jarak antara rumah tempat kami menginap dengan kantin tak terlalu jauh, hanya sekitar 100 meter saja. Sesampainya di sana, kami melihat para polisi tersebut masih melaksanakan apel pagi. Rencana perjalanan yang harusnya di mulai pukul delapan pagi, akhirnya molor hingga satu jam kemudian karena menunggu peralatan dan kapal karet yang akan dibawa ke lokasi.
Continue reading

Catatan Perjalanan Sail Tomini 2015 : Welcome to Palu! (bagian 1)

β€œEh, ada yang mau jadi tim medis polair untuk sail tomini?”

Itulah bunyi pesan yang dikirimkan oleh seorang teman di grup line kelompok kami. Jujur, saya sama sekali tak tahu dan tak memiliki gambaran mengenai apa itu Sail Tomini, tetapi karena hampir semua teman saya di grup line tersebut mendaftarkan diri, akhirnya saya pun melakukannya. Hanya jadi tim medis kan? Itu pekerjaan yang sudah biasa kami lakukan.
Continue reading

Dialek Makassar yang Bikin Salah Paham

β€œMau ke manaki?”, agak kaget saya menoleh dan memandang nenek tersebut. Wajahnya tak familiar. Setelah terdiam cukup lama, akhirnya saya pun menjawab pertanyaannya dengan terbata-bata.

Ini pengalaman saya beberapa tahun yang lalu. Tepatnya saat pertama kali menginjakkan kaki di Makassar. Oke, mungkin itu bukan yang pertama kalinya. Tapi biasanya saya ke kota ini hanya untuk sekedar transit ketika ingin mengunjungi nenek di Bandung sana.

Mungkin beberapa teman sudah tahu hal apa yang ingin saya ceritakan di tulisan ini ketika membaca kutipan percakapan di atas. Ya, saya sudah sangat sering menceritakan pengalaman saya ini dan setiap mengingatnya selalu membuat saya tertawa dan merasa geli sendiri. Continue reading

Dokter Pengangguran

β€œAku ingin jadi dokter!”. Begitulah kira-kira jawaban yang sering diberikan oleh anak-anak ketika ditanya mengenai cita-citanya. Mungkin sihir jas putih dan stetoskop yang dikalungkan di leher tampak sangat keren. Saya pun sepertinya telah tersihir. Entah mengapa, sejak duduk di bangku taman kanak-kanak saya telah memutuskan untuk menjadi seorang dokter. Karenanya, saya selalu berusaha untuk mendapatkan predikat terbaik di sekolah agar bisa mencapai keinginan terbesarku itu. Continue reading