Tetap Dalam Jiwa; dr. Dionisius Giri Samodra

Yudisium Dokter

Masih lekat di ingatan saat kau meneleponku sore itu. Hujan. Sangat deras. Dan tentu saja dingin. Aku masih di Sorong. Berlibur di rumah orang tuaku, sekaligus menanti pengumuman UKMPPD yang sangat mendebarkan. Kau meneleponku. Bertanya apa kabarku. Ah, itu pertanyaan biasa yang kau tanyakan padaku setiap minggunya. Aku pun menjawab baik saja. Kita pun mulai bercerita. Mulai dari hal yang remeh hingga yang paling remeh. Oke, kita berdua memang jarang membahas sesuatu yang serius. Namun sore itu, kau sepertinya agak gelisah.

Kau bertanya padaku, jika lulus, di manakah aku akan memilih tempat mengabdi untuk satu tahun nanti. Aku pun tertawa, mengatakan bahwa itu bisa dipikirkan nanti. Kau menggerutu, tak suka dengan jawabanku. Aku pun menjawab, di manapun tempat bertugasku nanti, yang penting bisa bersama sahabat-sahabat baikku. Aku pun balik bertanya bagaimana denganmu yang harus memilih tempat internsip sebentar lagi. Kau kan lebih dulu lulus daripadaku. Namun kau justru menjawab sebaliknya. Kau lebih memilih ditempatkan di daerah yang tak ada seorangpun kau kenal. Kau memilih untuk mengenal orang-orang baru. Daerah baru. Dan tentu saja pengalaman baru.

Sedikit tertawa, aku mencemoohmu. Mengatakan kau terlalu idealis. Coba saja kalau kau bisa! Tantangku. Dan itu kau lakukan. Kau memilih mengabdi di Kepulauan Aru. Daerah yang bahkan jika disebutkan, orang yang mengaku sebagai warga negara indonesia pun masih mengerutkan dahi dan berpikir, “Di manakah itu?”.

Ketika mengetahui kau mendapatkan tempat internsip di sana, aku pun segera menghubungimu. Meneleponmu berkali-kali hingga kau menggeser tanda hijau pada layar smartphonemu. Menceramahimu karena memilih di sana. Namun juga menyemangatimu untuk terus melanjutkan. Masih kuingat jelas kata-kataku saat itu, “Kenapa ndakko pilih di Jayapura atau Wamena saja sekalian? Setidaknya transportasi ke sana jauh lebih mudah didapatkan.” Dan tidak kusangka, ternyata hal itulah yang menjadi masalah ketika kau sakit hingga muncullah tulisanku ini.

Beberapa bulan setelah kau menjalani tugasmu di sana, aku masih sering menggodamu karena susahnya jaringan internet di sana. Aku menggodamu, karena harga makanan yang sangat mahal di sana. Aku menggodamu, karena kau tak dapat berenang, tapi harus menaiki kapal ke sana ke mari. Aku terus menggodamu, berharap kau mengucapkan kata “menyesal”. Namun itu tak kau lakukan. Kau justru dengan semangat bercerita padaku mengenai pasien-pasienmu di sana, mengenai alamnya yang masih sangat perawan, mengenai teman-teman internsipmu, mengenai semua hal yang membuatku berpikir, “Ah, aku pun ingin mengabdi di tempat yang demikian.”

Seminggu yang lalu, kau meneleponku, tentu saja selalu dengan nada manjamu. “Kau nah Kyong, ndak pernahko telponka kalau bukan saya yang telponko. Apa ko sibuki kah? Ndak rindu ko sama saya?”. Sumpah, demi Tuhan. Ndra, aku teramat rindu padamu. Sangat rindu. Aku rindu padamu yang selalu memanggil namaku dengan sebutan “Kyong” dengan nada manja. Aku rindu padamu yang selalu punya jawaban atas segala pertanyaan ajaibku mengenai kedokteran. Aku rindu padamu! Dan tak kusangka itu menjadi percakapan terakhir kita. Sesalku hingga sekarang, aku bahkan tak sempat bertemu denganmu di bandara saat kau kembali ke Dobo meskipun kau mengatakan akan transit di Makassar beberapa saat.

Aku tak tahu lagi, seberapa bengkak mataku saat menulis tulisan ini. Aku sudah tak tahu lagi, kira-kira berapa banyak air mata yang dapat kuteteskan setelah hari ini. Karena rasanya, ia terus mengalir. Tak mau berhenti. Ah, tak bisakah kau saja yang hentikan aliran sungai kecil di mataku, Ndra? Sungguh, aku sangat menderita.

Mengapa semua yang kuingat tentangmu malah membuatku menangis? Bukankah yang selalu kita lakukan hanyalah tertawa dan merencanakan hal-hal yang aneh? Kau bahkan bercita-cita ingin ke Swiss dan makan cokelat sebanyak-banyaknya. Tapi mengapa ingatan tentang hal konyol seperti itu tetap mampu mengalirkan air mataku? Aku ingat kau ingin melanjutkan sekolah spesialismu. Aku ingat ibumu yang sangat bangga padamu. Aku ingat kita sering bercerita mengenai akan seperti apa anak-anak kita kelak. Aku ingat mimpi-mimpi konyol yang sering kita perbincangkan di saat senggang. Tahukah kau? Meskipun aku tak pernah menanggapinya serius, aku sungguh berpikir mimpi konyol itu bisa diwujudkan. Aku pikir, kita bisa mewujudkannya. Karena itu mimpimu. Mimpi kita.

Kau bukan hanya seorang sahabat, Ndra. Tapi kau adalah keluarga. Pernahkah aku mengatakan bahwa aku sangat sayang padamu? Jika belum, semoga saja kau tahu itu tanpa perlu aku katakan. Kami semua sayang padamu. Kami semua selalu mendoakan segala yang terbaik untukmu. Semoga kau tenang di sana, Ndra. Mungkin ragamu tak dapat lagi kupeluk hangat. Namun semua tentangmu akan kekal di ingatan. Di ingatan kami semua. Sahabat-sahabatmu yang menyayangimu. Selamat jalan. :’)

Advertisements

51 thoughts on “Tetap Dalam Jiwa; dr. Dionisius Giri Samodra

  1. oohh ternyata alm.dokter dr mksr 🙂 turut berduka cita… jgn2 org2 toraja ??? soal.y nama.y mirip2 “toraja fam” di luar itu TURUT BERDUKA CITA 🙂

    Like

    • Dokter Kiky yg berduka
      Berurai airmataku membaca kenangan terakhirmu dg Andra…berulang kali tulisa itu kabur tak terbaca….semoga amal ibadahnya diterima Allah swt dan ditempatkan ditempat yg mulia.
      Dokter kiky…jalanmu masih panjang pengabdianmu ditunggu….hapus airmatamu jadikan cita2 Andra yg belum selesai menjadi penyemangatmu..ayo bu dokter….salam sehat

      Like

  2. Turut berduka cita

    Semoga amal ibadah diterima di sisiNya. Segala pengabdian yang selama ini dijalani pasti bermanfaat bagi masyarakat setempat dan jasa nya pasti dikenang di seluruh dunia kedokteran dan rakyat Indonesia..

    Like

  3. Hai dr. Kiky,

    Saya temukan blog post ini di timeline Facebook saya. Saya memang tidak mengenal dr. Andra tapi berita kepergiannya sangat menggetarkan hati. Setiap ada berita kepergian sejawat saat sedang bertugas, hati saya ikut menangis. Seperti yang diajarkan dan dilafalkan dalam sumpah, kenal atau tidak kenal kita adalah saudara. Saya turut berduka atas kepergian dr. Andra. Semoga dr. Andra ditempatkan di sisi terbaikNya.

    Terima kasih dr. Kiky sudah menceritakan tentang dr. Andra.

    Salam sejawat,
    dr. Dini A. Puspitasari
    http://www.dinipuspita.com

    Liked by 1 person

  4. Turut berdukacita atas gugurnya dr. Andra dalam tugas mulia. Saya meneteskan air mata sekalipun tidak mengenal beliau secara pribadi. Sebab kita, para dokter, adalah keluarga. Pejuang dalam dunia kesehatan. Semoga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Amin.

    Salam sejawat.

    Like

  5. Turut berduka cita atas meninggalnya teman sejawat dr. Donisius. Mohon ijin mengutip blog Anda, saya masukkan ke blog saya dengan sedikit klipingan berita mengenai Almarhum teman anda dan seputar campak di: http://www.dokterkulitku.com/selamat-jalan-dr-dionisius-giri-samudra/?src=w (link pendek: http://www.drKul.id/dgs-w). Salam sejawat dan sekali lagi turut berduka cita atas kehilangan Anda dan teman-teman Anda, Dr. Arthur

    Like

  6. Turut berdukacita ya dok atas kepergian TS kita dr. DIONISIUS GIRI SAMUDERA.. semoga smua yg dtinggalkan diberi keikhlasan dan ketabahan… dr.andra sdh tenang dsana… so ndak sakit lagi… salut utk semangat almarhum yg ingin mengabdi di tempat terpencil,sulit akses transportasi dan sgala.permasalahan lainnya… selamat jalan TS dr. ANDRA…

    Like

  7. NangisK Bacai Kakak:-)
    Nda TaukK Mau Komen Apa,Saya Bisa Posisikan Diriku Diposisita Kak,Pasti Mauki Ulang Waktu To?Tapi Nda Bisaki 🙂
    Huuuffftt…
    Kisah Yang Mengharukan,,,Salam Semangat Untuk Semua Sahabat Yang Begitu Merasa Kehilangan:-(
    Dan Akupun Pernah Merasakan Yang Sama :-(:-(:-(

    Liked by 1 person

  8. Bagus sekali tulisannya mbak :))
    Salam kenal yaa, saya juga pernah lama tinggal di Makassar. Baru ngeh kalau dr Dionisius ini ternyata dari unhas, Makassar. Taunya pun setelah saya lihat teman-teman FB yang dari Makassar banyak share berita tentangnya.

    Like

  9. nyata benar..apa arti sebuah sahabat dan apa arti sebuah keluarga…., selamat jalan buat sahabatmu
    gugur dalam sebuah pengabdian…

    Like

  10. Innalillahiwainnaillaihi rodjiun..
    Turut berduka.. 😦
    Respect untuk FK unhas yg sedang berduka
    Di timeline sosmes saya jd kenal dgn sosok doktermuda inu karena teman2 yg berduka…

    Semoga berada di tempat terindah. Aamiin .
    Semangat untuk para doktermuda yang mengabdi.

    Like

  11. turut berduka cita atas musibah yang terjadi pada sahabatmu dokter muda yang memiliki hati nurani yang sangat luhur. semoga kebaikan beliau akan menjadi contoh bagi dokter-dokter yang lain.

    Like

  12. He is the real hero. Rela mengorbankan nyawa sendiri demi kepentingan anak bangsa di tempat terpencil. He died between Hero’s day and Healthy’ s day. Rest In Peace dr Andra. Be patient dr Kyky

    Like

  13. Tetap semangat dokter Kiky, membaca blogmu seperti mendapat “teman seperjuangan” yang suka menulis..
    Ah ingin sekali ak mengenal Kiky lebih dalam, semoga di lain kesempatan ketika Kiky sempat. Aku sbg teman sejawat, mengucapkan dukacita yg mendalam. Semoga arwah beliau diterima di sisi Nya.. Tetap tersenyum, karena dia pasti bangga melihatmu mjd seorang dokter yang hebat…

    Like

  14. Deepest condolence for dr. Dionisius, walau ga kenal, tapi sebagai sesama dokter, aq bangga kpd dr. Dionisius yg punya hati n semangat untuk mengabdi. Semoga beliau tenang disisiNya dan keluarga dan teman2 yg ditinggalkan diberi ketabahan. Semoga kisahnya dapay menginspirasi banyak dokter2 lain dan memberi pelajaran yg berguna. Turut berduka cita n selamat jalan dr. Dionisius

    Like

  15. dr. Dionisius, walau ga kenal, tapi aku bangga kpd dr. Dionisius yg punya hati n semangat untuk mengabdi. Semoga beliau tenang disisiNya dan keluarga dan teman2 yg ditinggalkan diberi ketabahan. Semoga kisahnya dapat menginspirasi banyak dokter2 lain dan memberi pelajaran yg berguna. Turut berduka cita n selamat jalan dr. Dionisius

    Like

  16. Salam kenal dr Kiky, saya Rangga tetangga dr Andra di jakarta. Kami bertetangga lebih dr 20 tahun, kabar ini sangat mengejutkan kami semua. Semoga pengorbanan Andra dapat menginspirasi dokter2 muda yg lain untuk terus mengabdikan dirinya pada masyarakat dan kemanusiaan.

    Tabik

    Like

  17. Selamat jalan bro, masih keinget sm gw gmn dlu kita bimbel bareng di BTA8 demi jadi dokter. Akhirnya lo diterima di tanah celebes dan gw di tanah andalas, tetep keep in touch sampe 2thn setelah kuliah dan gw kaget banget tau kondisi lo di Kep. Aru. RIP bro, semoga lo tenang di sisiNya. Aminnn

    Like

  18. Selamat jalan sejawat
    Kami bangga akan jasamu di kep. Aru
    Kau telah ukirkan tinta emas bagi kita semua
    Terimakasih sejawat
    Semoga Kau tenang damai di Surga
    RIP dr. Andra

    Salam sejawat

    Like

  19. dokter Kiki membaca ceritamu akupun terharu dan tak terasa airmataku menetes dan terakhir malah terisak2, ikut berduka yg mendalam atas berpulangnya sahabatmu dokter muda yg hebat.tetap semangat ok dokter Kiki dan aku izin share ceritamu di depan selamat bertugas semoga dengan kejadiaan ini membuka mata dan perhatian dunia kesehatan dan kita semua

    Like

  20. Slamat jalan Teman…semoga diberikan tempat terindah disisiNya..

    Aq dishare tulisan ini oleh sahabatku…teringat dlu kami PTT ditempat yg berbeda tp tetap berhubungan dan saling menghibur krn sinyal susah dan buruknya transportasi…
    Tak terbayang kesedihanmu dr Kiky….

    Like

  21. Turut berduka utk dr Dionisius (drAndra). Membaca tulisan di atas jg membuat air mata sy tak henti2nya menetes, walo sy tak menegenal dr Andra secara pribadi tp cerita pengabdian teman sejawat ini begitu menyentuh hati sy. Tak semua dokter mampu melakukan apa yg dr Andra lakukan, termasuk sy. Ditempatkan didaerah sangat terpencil dgn segala keterbatasannya. Semoga ini menjadi perhatian pemerintah untuk menghargai profesi dokter, jangan cuma malpraktek (yg belum tentu benar2 malpraktek )yg disorot tp pengabdian tenaga medis dan paramedis yg rela ditempatkan di daerah jauh spt ini bisa diperhatikan dan bukan hanya memanfaatkan tenaga mereka.

    Like

  22. Halo dr. Kiky, saya Danang tetangga dr. Andra di Pamulang. Ingatan saya tentang Andra adalah seorang bocah yg sering saya gendong & ajak bermain sekitar 20 tahun lalu. Kabar tentang kepergiannya begitu mengejutkan sekaligus menyadarkan saya bahwa dia telah tumbuh menjadi seorang pejuang utk kemanusiaan. Semoga semua orang yg mencintainya diberi kekuatan utk melewati masa sulit ini. Dia bukan hanya pahlawanku tp jg pahlawan negeri ini. R.I.P Andra…

    Like

  23. I’m so touch reading this. While many of my friends are looking for the most comfortable place for doing one-year internship, dr. Andra has shown us his noble motivation. His willingness to perform medical service in such a remote area has taught me that it takes someone with a good compassion to be a REAL doctor.

    Dear dr. Kiky, I’m really sorry for your loss. I believe that your friend has been given a better place, wherever he is now.

    Like

  24. Meskipun sy bukan dokter, tp dimanapun sy selalu menangis kalau ingat cerita dokter andra, krn banyak juga teman saya bidan yg ceritanya sama, salam kenal dg yg nulis blog ini, mas andra semoga kau sdh tersenyum disana, dan smoga cerita hidupmu mwnginspirasi semua tenaga kesehatan dg semangat juangmu demi bangsa kita, RIP dokter andra…aamiin

    Like

  25. Hai dokter kiki…..
    Berlinang air mata saat membaca tulisan ini meskipun saya yakin tidak sederas air mata mu saat menulis tulisan ini
    Saya juga sempat mengenal alhmarhum dan berteman dgn beliau, sangat bersyukur pernah mengenal orang sebaik dia. Yang sabar ya dok, dia sudah tenang disana

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s