Catatan Perjalanan Sail Tomini 2015 : Ketika Harapan Tak Sesuai Dengan Kenyataan (bagian 2)

Tepat pukul tujuh pagi, kami semua telah berkumpul di kantin asrama. Bukan karena kelaparan (meskipun kami memang lapar) tapi itu instruksi dari pak direktur. Jarak antara rumah tempat kami menginap dengan kantin tak terlalu jauh, hanya sekitar 100 meter saja. Sesampainya di sana, kami melihat para polisi tersebut masih melaksanakan apel pagi. Rencana perjalanan yang harusnya di mulai pukul delapan pagi, akhirnya molor hingga satu jam kemudian karena menunggu peralatan dan kapal karet yang akan dibawa ke lokasi.

Kami pun akhirnya mengikuti apel pagi bersama para polisi air sebelum berangkat untuk mengetahui rundown kegiatan di sana. Rencananya, renang estafet ini akan memecahkan rekor MURI, bahkan dunia! Tak tanggung-tanggung, renang estafet tersebut akan menempuh jarak sejauh 472 km, yang diikuti oleh 10.000 peserta dan dilakukan selama 24 jam dan diperkirakan akan mencapai finish di Kecamatan Saisuo pada hari ke-27. Well, saya pikir, ini gila! Tapi melihat persiapan yang sangat matang dari tim polisi air, saya jadi berubah pikiran. Mungkin ini tak segila yang saya pikir. Hehehe…

Setelah briefing sebentar dengan dokter Yudi – dokter polisi air yang bertanggung jawab atas tim medis ini – kami pun segera naik ke atas bis dan duduk berdampingan dengan pasukan  polair lainnya. Perjalanan yang menghabiskan waktu sedikit lebih panjang dari estimasi sebelumnya terasa sangat melelahkan. Terakhir saya melakukan perjalanan sejauh ini, desember tahun lalu saat pergi ke toraja ala backpacker. Hehehe…

Sampai di Moutong tepat pukul setengah delapan malam. Kami menginap di rumah salah satu polisi air yang kebetulan memiliki rumah di sana. Karena sudah malam dan sangat lelah, saya tak lagi memperhatikan keadaan sekitar rumah tersebut, yang saya pikirkan hanyalah kasur dan guling. Kalaupun tak ada, yang saya butuhkan saat ini hanyalah tempat untuk merebahkan tubuh meski hanya di atas karpet. Dan benar saja, begitu mendaratkan tubuh di atas karpet, tanpa guling ataupun bantal, saya segera terlelap.

Hari Rabu pagi, setelah sarapan, rombongan kami pun bergegas ke pantai yang hanya berjarak sekitar lima menit perjalanan menggunakan bis, untuk mengecek kesiapan peralatan dan kapal-kapal yang akan digunakan selama mengawal peserta renang estafet nanti. Pantai yang tak terlalu luas itu serasa milik pribadi saja. Sangat sepi. Bahkan tak ada seorang pun di sana. Sebenarnya saya agak bingung, apa tugas kami di sini. Pasukan yang lain sibuk mengecek kapal-kapalnya, dan kami – tim medis – hanya duduk menonton, sambil sesekali ikut mengendarai speedboat milik polair hingga siang menjelang.

Mungkin karena melihat kami yang gelisah tak melakukan apapun, tiba-tiba pak direktur memerintahkan beberapa anak buahnya untuk mendirikan tenda. “Sekalian bikin pemeriksaan kesehatan gratis di sini ya, Dok. Kebetulan di sini sudah tujuh bulan tak ada dokter. Jadi masyarakat di sini tak pernah memeriksakan kesehatannya.”, pak direktur menjelaskan kepada kami ketika teman saya menanyakan untuk apa tenda tersebut. Tentu saja dengan senang hati kami melakukannya. Alhasil, pemeriksaan kesehatan yang berlangsung kurang dari tiga jam itu, diserbu oleh banyak sekali pasien. Meskipun informasi mengenai pemeriksaan kesehatan ini hanya mereka dapatkan dari mulut ke mulut, terdapat lebih dari seratus pasien yang datang berbondong-bondong dari desa yang berbeda. Saya jadi merasa prihatin, di daerah seluas Moutong, mengapa tak ada seorang dokter pun yang bertugas di sana.

Keesokan harinya, merupakan hari pembukaan Sail Tomini 2015. Saya sudah membayangkan pesta pembukaan yang meriah. Namun, begitu sampai di lokasi, saya hanya bisa mendesah kecewa. Kok, sepertinya lebih meriah acara kondangan ya? Kami pun saling melirik. Ini kah acara yang akan dihadiri oleh gubernur Sulawesi Tengah?

Pembukaan acara dibuka langsung oleh bapak Drs. H. Longki Djanggola, M.Si, (semoga saya tidak salah menuliskan nama beliau) selaku gubernur Sulawesi Tengah dan dihadiri oleh pejabat-pejabat daerah serta masyarakat sekitar. Tapi tetap saja, yang mendominasi di dalam tenda tersebut hanyalah pasukan polair yang berseragam biru dan kami – tim medis – yang berjas putih. Apa jadinya jika tak ada kami? Pastinya kursi-kursi tersebut akan kosong.

Setelah pembukaan, kami semua digiring ke pinggir tanjung untuk melihat dimulainya renang estafet. Di sana telah menunggu kapal karet milik BAZARNAS dan juga kapal milik polair. Gubernur beserta bupati dan beberapa peserta dipandu untuk menaiki kapal dan tak lama kemudian kapal-kapal tersebut mulai menjauh ke tempat start. Dari pinggir tanjung, kami – tim medis –  mulai membicarakan shift yang kami bagi sebelumnya. Ya, karena renang estafet ini akan dilakukan selama 24 jam dalam 27 hari, tentu saja kami harus berbagi jadwal.

Hingga dua puluh menit kemudian, rombongan gubernur dan bupati kembali lagi ke pesisir. Kami masih berdiri di pinggir tanjung, menanti untuk naik ke kapal utama (kapal berisi persediaan obat-obatan dan peralatan medis). Namun, tak lama kemudian, tiba-tiba kami semua dipanggil oleh salah seorang polisi air untuk kembali ke dalam bis. Ternyata, pak direktur telah memerintahkan untuk menarik sebagian pasukan dan seluruh tim medis untuk kembali ke kota palu. Kepala kami dipenuhi pertanyaan, ada apa gerangan yang menyebabkan sebagian rombongan harus kembali tepat setelah acara dimulai?

Sore itu juga, kami kembali ke Palu. Menempuh sepuluh jam perjalanan. Kembali melewati jalanan yang cukup mulus beraspal, namun berkelok-kelok melintasi pegunungan yang lumayan menulikan pendengaran. Belakangan, pak direktur menjelaskan mengapa beliau menarik sebagian pasukannya dan seluruh tim medis dan hanya meninggalkan dokter Yudi di sana. Wakil Bupati bahkan meminta maaf kepada beliau karena hal ini, namun saya tak dapat menuliskan alasannya di sini. Mungkin nanti. Hehehe…

Saya kecewa. Ya, sangat kecewa. Seharusnya ini menjadi suatu tantangan baru yang menyenangkan. Nyatanya, karena sesuatu yang tak bisa saya sebutkan,  ini berubah menjadi sebuah acara jalan-jalan. Liburan lebih tepatnya. Setidaknya, itu yang saya rasakan. Well, tak apalah. Kapan lagi saya bisa ke Palu kalau bukan karena perjalanan dinas? Hehehe…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s