Dokter Pengangguran

“Aku ingin jadi dokter!”. Begitulah kira-kira jawaban yang sering diberikan oleh anak-anak ketika ditanya mengenai cita-citanya. Mungkin sihir jas putih dan stetoskop yang dikalungkan di leher tampak sangat keren. Saya pun sepertinya telah tersihir. Entah mengapa, sejak duduk di bangku taman kanak-kanak saya telah memutuskan untuk menjadi seorang dokter. Karenanya, saya selalu berusaha untuk mendapatkan predikat terbaik di sekolah agar bisa mencapai keinginan terbesarku itu.

Lulus SNMPTN di salah satu perguruan tinggi negeri di Makassar semakin membimbingku selangkah lagi ke depan untuk menggapai cita-citaku. Harapan besar dan keinginan kuat benar-benar telah memberiku kekuatan untuk menjalani kehidupan sebagai seorang mahasiswi kedokteran yang kesehariannya sangat membosankan dan penuh tekanan. Well, saya telah mempersiapkan diri untuk menghadapi segala rutinitas dan tekanan itu. Saya sadar, menjadi seorang dokter pasti tak mudah. Ketika ingin masuk di fakultas bergengsi itu saja sudah cukup sulit, saya harus bersaing dengan ribuan peserta dari seluruh Indonesia. Setelah masuk di dalamnya, ternyata jauh lebih sulit.

Di saat teman-teman semasa SMA telah mulai bekerja dan berpenghasilan, di saat mereka sudah mulai berkeluarga, saya masih jalan di tempat, berstatuskan “mahasiswa kedokteran” yang dipuja banyak orang. Proses pendidikan yang demikian lama membuat saya sedikit khawatir. Bagaimana tidak? Papa saya sekarang hanyalah seorang pensiunan dan masih ada dua adik saya yang harus dibiayai. Lantas, dimana kewajiban saya sebagai anak sulung? Namun, orang tua dan keluarga saya selalu menyemangati, bahwa setelah menyandang status dokter, tentu segalanya akan terasa lebih mudah. Mereka bilang, “Tidak mungkin ada dokter yang menjadi pengangguran. Kalau kamu udah selesai, kan bisa langsung nyari nafkah sendiri. Beda sama lulusan fakultas lain, masih harus ngelamar kerjaan sana-sini.”

Dan sekarang, setelah menyandang gelar dokter di depan nama saya, memang merupakan suatu kebanggan tersendiri. Namun, ketika ditanya oleh teman, “Sekarang praktik dimana?”, saya hanya bisa tertawa kecut sebagai jawaban bahwa saya memang seorang dokter, tapi saya juga seorang pengangguran. Lalu, muncul lagi pertanyaan lain, “Ada gitu, dokter nganggur?”, dan kembali saya jawab dengan tawa sambil berucap, “I am”.

Kami, para lulusan dokter di seluruh Indonesia mengalami hal yang serupa. Kami dihadapkan oleh suatu program yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk menempatkan dokter yang telah lulus uji kompetensi untuk memberikan pelayanan kesehatan di daerah pelosok dalam waktu terbatas atau biasa kami sebut dengan internsip. Hal ini sesuai dengan undang-undang no.20 tahun 2013 tentang pendidikan kedokteran (UU dikdok).

Lantas, apa masalahnya? Bukankah kewajiban seorang dokter adalah mengabdi kepada masyarakat? Tak ada yang salah dengan program tersebut, yang perlu diperbaiki adalah proses pelaksanaannya. Bayangkan, setelah kami menjalani berbagai ujian kompetensi agar bisa dinyatakan berkompeten sebagai seorang dokter, kami masih harus menganggur sekian bulan lamanya hanya untuk bisa mengabdi. Ini terjadi sebagai akibat dari keterlambatan jadwal pemberangkatan dokter internsip yang kabarnya dikarenakan ketiadaan dana. Selain itu keterlambatan ini juga disebabkan oleh banyaknya peserta internsip yang tidak sebanding dengan jumlah wahana (daerah penempatan) yang disediakan.

Sulit dimengerti? Oke, mari saya jelaskan. Setiap lulusan dokter baru, diwajibkan untuk mengikuti ujian kompetensi yang diadakan secara nasional. Setelah lulus, barulah mereka bisa melaksanakan internsip. Internsip ini sendiri hanya bisa dilakukan di wahana (daerah) yang telah ditunjuk, karena tidak setiap daerah memenuhi syarat sebagai tempat pelaksanaan internsip.  Namun, pada pemberangkatan yang lalu, sekitar 504 dokter bahkan tak mendapatkan wahana dan sebanyak 2468 dokter lainnya yang baru saja lulus uji kompetensi bulan februari lalu masih tak jelas bagaimana nasibnya. Ditambah lagi masih ada sekitar lebih dari 1000 dokter yang lulus uji kompetensi bulan mei lalu yang entah kapan akan diberangkatkan jika demikian banyaknya daftar tunggu yang akan melaksanakan internsip.

Well, abaikan gaji dokter internsip yang hanya dua setengah juta perbulan (yang kemudian dirapel per tiga bulan), bukan itu yang utama. Saya pribadi sudah tak lagi menghiraukan jumlah gaji tersebut yang mungkin sedikit lebih rendah dibandingkan gaji buruh. Saya yakin semua dokter yang baru lulus tersebut tak lagi mempermasalahkan hal itu. Kami hanya ingin mengabdi secepatnya, menuntaskan segala rangkaian pendidikan agar orang tua kami bisa bernapas lega. Saya merasa waktu saya terbuang percuma hanya untuk menunggu.

Bayangkan saja, saya telah menyelesaikan pendidikan dokter saya di akhir tahun 2014, kemudian yudisium bulan Desember 2014, mengikuti ujian kompetensi bulan Februari 2015, dinyatakan lulus bulan Maret 2015 dan kemudian baru bisa mengabdi (kabarnya) bulan November 2015. Jadwal pemberangkatan pun masih simpang siur antara bulan Oktober atau November. Berapa bulan waktu yang saya habiskan hanya untuk menunggu ketidakjelasan ini? Dan hal ini bukan hanya terjadi pada saya, namun juga pada ribuan teman sejawat lain dari seluruh Indonesia.

Lalu, apa yang harus kami lakukan sembari menunggu? Bahkan menyentuh pasien pun kami tak diperbolehkan. Kami malah disarankan untuk menjadi asisten dosen, asisten penelitian, atau magang di tempat lain. Memangnya ada institusi yang mampu menampung ribuan pengangguran seperti kami sebagai asisten atau pegawai magangnya?

Mengutip kicauan teman di twitter, “Sembilan bulan nunggu internsip? Itu ngandung apa nganggur?”. Hahahaha……

Yah, beginilah kondisi dunia kedokteran di Indonesia saat ini. Ketika banyak orang sakit bertebaran dimana-mana, ribuan dokter justru jadi pengangguran. Lucu bukan? Tentu lucu. Dan itu semua terjadi karena sistem pendidikan kedokteran di Indonesia yang menurut saya belum siap.

Kasarnya sih, saya ingin mengatakan bahwa ini program cacat. Perlu perbaikan disana-sini. Kalau memang tak siap dan banyak masalah yang ditemui di dalamnya, kenapa tak segera mencari solusinya? Jika solusinya tak kunjung didapat, mengapa masih dipertahankan? Ah, saya kan hanya seorang dokter yang baru saja lulus dan harus menunggu hampir setahun. Saya hanya seorang anak yang malu pada orang tuanya karena tak kunjung bisa mencari nafkah sendiri dari gelar yang telah susah payah didapatkan. Sungguh tak pantas saya berkomentar mengenai program yang mungkin telah mereka susun berbulan-bulan lamanya. Maaf, karena telah berkomentar demikian tak sopan.

Menyesal jadi dokter? Jawaban saya, tidak. Ini keinginan saya yang terbesar dan telah berhasil saya capai dengan jerih payah sendiri. Meskipun terkadang terbersit rasa iri saat melihat teman-teman lain yang telah berkeluarga, memiliki pekerjaan layak, punya anak yang lucu, dan lain sebagainya. Hehehehe….. (oke, yang ini curhat) Mungkin dari menunggu saya disuruh untuk belajar menjadi ibu rumah tangga yang baik? Belajar masak, misalnya? Hahahaha……

But, hey! Dokter pengangguran itu benar adanya! Dan ribuan jumlahnya! Masih tak percaya kalau dokter juga bisa jadi pengangguran?

Advertisements

18 thoughts on “Dokter Pengangguran

  1. Yupp.. beberapa teman2 saya yang baru saja dapat gelar dr. juga mengeluhkan hal yang sama .
    Tidak hanya dokter, Guru pun begitu … Yang sudah menyandang gelar Spd dan Gr dibelakang nama, masih juga harus menunggu “apalah-namanya” selama bertahun2.
    Btw, tulisannya keren 😉 salam kenal.

    Like

  2. Paragraf kedua dr yg terakhir bagus, sepertinya solusi yg baik selama masa ‘menunggu’. Ada Papacito-ta yg jadi tester.

    Anyway selamat menunggu (lagi), salam kenal.

    Like

  3. Terkadang kita hanya bisa mengeluh saja, lalu mereka secara takacuh pun pura-pura mendengar, pura-pura berusaha. Sementara tidak tampak ada yang berubah.

    Iri. Iya…
    Saya pikir hanya saya saja yang iri dengan mereka yang menjalani pendidikan non-kedokteran. Hahaha…

    Tag apa ini, ky?

    Like

  4. Pengabdian tidak harus dari apa yg kita dapat dan kita pelajari, kadang pengabdian membutuhkan pengorbanan karir dan mungkin bisa berjalan berputar dahulu atau bisa mundur kebelakang tetapi percayalah seorang dokter tetap lah ia sebagai seorang dokter

    Like

  5. Tetap semangat…!! Saya pun baru lulus bidan setahun yg lalu… Dan nasibku sama sperti yg lain yg masih nganggur, dunia kesehatan sungguh miris…

    Like

  6. Pingback: Dokter Pengangguran | Prasamderma's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s